Pada luka
kamu mengajarkanku bagaimana untuk berdoa. Meski tak menggenapi luka, tapi itu
cukup membuatku lega. Sedang pada rindu, kau mengekalkanku pada pilu. Aku kekal
disana.
Hanya kau janjikan seraut wajahmu, tanpa kau ijinkan tanganku
memegangmu.
Kau ijinkan aku menatap, tanpa balasan tatapmu.
Kau ijinkan aku
mencintaimu, tanpa pernah memilikimu. Barangkali kini, rindu telah menjadi
alasan termanis, untuk menangis.
Sejauh
apapun kini kau pergi, nama lengkap mu tetap abadi dalam ingatan pengkhianatan.
Lalu kemana lagi kakiku akan kupijakkan? Kini kubiarkan pijakanku
merapuh.Karena tanpa kesedihan aku percaya cinta hanya jalanan lengang yang tak
akan member kita kesan apapun saat menapakinya.
Kini
kesedihan sudah tumbuh semakin manis dan pintar. Ia tahu cara memikat orang
orang yang saling membutuhkan satu sama lain. Mungkin sebatas pengisi sepi.
Atau untuk menjatuhkan hati? Entah, tergantung tingkat kenyamanan yang saling
didapat.
Seseorang
dari masa laluku, tumbuh semakin tinggi. Badannya juga nampak lebih sehat dan
kuat. Tapi tatapnnya masih sama. Rambutnya juga semakin merah. Dan seseorang
yang ingin kudapatkan hatinya tetap tenang seperti embun diatas daun. Dia
mengukuhkan agamanya. Menyukseskan masa depannya. Seolah dia tau ada yang
menggantungkan masa depan bahagia bersamanya.
Disebuah
pesta, balon hijauku telah meletus. Lalu kuterbangkan keempat balon lainnya
agar aku bisa memelukmu erat erat. Balon hijau sudah menjadi masa lalu yang
menyenangkan. Dan keempat balonku, tidak cukup membahagiakan. Dari sekian
bahagia yang kukenal, baru pada dirimu cinta menemukan hakikatnya.
Selalu
se-sederhana dirimu.
Se-sederhana mendoakan dan lainnya mengamini.
Lalu berpegangan
tangan dan bahagia
Setidaknya untuk saat itu..

0 komentar:
Posting Komentar